Tuesday, October 6, 2009
Siri 2
Pada waktu kita hidup untuk diri kita sendiri, nampaklah kehidupan ini seolah-olah singkat dan sangat pendek. Dimulai sejak kita sadar, dan diakhiri dengan kepergian usia kita yang begitu pendek itu. Namun, manakala kita hidup untuk yang selain diri kita sendiri, yakni ketika hidup demi sebuah idealisme, maka terlihatlah kehidupan yang panjang dan terbentan luas sekali. Dimulai sejak awal kemanusiaan, dan berlanjut terus sampai pun kita meninggalkan permukaan bumi ini.
Sudah tentu, dalam keadaan seperti itu, kita memperoleh laba yang berlipat ganda dari usia diri kita sendiri. Ya, kita memperolehnya sebagai laba hakiki, bukan semu. Dan melukiskan kehidupan dengan pola demikian, akan melipatgandakan perasaan kita, harihari kita dan waktu-waktu kita. Memanglah ukuran waktu kehidupan itu bukan dengan bilangan tahun, akan tetapi dengan bilangan perasaan. Para penganut faham faktualisme menganggap ungkapan itu sebagai khayal belaka, padahal kenyataannya ia lebih hakiki dari semua yang mereka anggap hakiki.
Sesungguhnya gambaran kehidupan itu tidak lain kecuali perasaan manusia itu sendiri tentang kehidupan. Menanggalkan manusia mana saja dari perasaan hidupnya sama halnya seperti menanggalkan manusia tersebut dari kehidupannya sendiri, dalam arti yang hakiki Apabila manusia itu telah dapat melipatgandakan perasaannya dengan kehidupannya, maka ia benar-benar telah berhasil melipat gandakan kehidupannya.
Nampaknya penyempitan erti kehidupan itu bagiku merupakan suatu kezaliman, sehingga tidak perlu dipermasalahkan lagi. Kita telah memberikan kehidupan berlipat ganda kepada diri kita, apabila kita hidup untuk orang lain. Dan besarnya pelipatgandaan tersebut sebanding dengan kadar perasaan kita yang kita berikan kepada yang lain itu. Kita lipatgandakan dulu perasaan kita dengan kehidupan kita dan kemudian melipat gandakan kehidupan itu sendiri.
Read more...
Monday, October 5, 2009
NiLAi SeBuAh TaNgiSaN 2..
Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal, takut-takut tidak diterima ibadatnya. Kita ketawa walaupun diri kosong daripada amalan. Lupakah kita Nabi pernah bersabda : "Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa akan dicampakkan ke neraka dalam keadaan mengangis."
Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau yang kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedudukan menjemput duka. Namun, Allah S.W.T telah berfirman : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik buat kamu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri. Disana, lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah yang dikasihi Tuhan. Kenangilah sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya taubat.
Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata : "Kalau semua masuk ke dalam Syurga kecuali seorang, aku takut akulah orang itu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya. "Kenapa engkau menangis?"
"Aku tidak mempunyai anak lagi untuk aku kirimkan ke medan perang." jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup, lalu berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Mas'ud berkata : "Seorang yang mengerti al-Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur dan waktu siangnya ketika orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al-Quran itu tenang, lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai, bersuara keras dan marah."
Tanyalah orang soleh mengapa mereka tidak berhibur? :
"Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu dibelakang kami, kubur itu dihadapan kami, kiamatitu janjian kami, neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah Allah.
Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, matiku adalah untuk Allah S.W.T, Tuhan sekalian alam..
>Moga rintihan kita sering didengariNya...amiin..<
Read more...
Labels:
muhasabah...
Sunday, October 4, 2009
SiApA DaLaM IsTiKhaRahKu??
>Info HELWI PMAPIUM< ^_^
Mari beramai-ramai ke kuliah 'Ainul Qalb!!
Bukan sekadar istikharah kebiasaan kita bahkan seluruh kehidupan
yang bakal kita layari....pelajaran? kerja? pasangan? rumah? hidup??
Bukan sekadar istikharah kebiasaan kita bahkan seluruh kehidupan
yang bakal kita layari....pelajaran? kerja? pasangan? rumah? hidup??
SIAPA DALAM ISTIKHARAHKU??
Tarikh : 7 OKTOBER 2009 (RABU)
Tempat : DKU, APIUM
Masa : 9 malam - 11.30 malam
Moderator : Saudara Zul Amirul Izwan
Panel 1 : Puan Fatimah Syarha Binti Mohd Noordin
(Penulis buku Tautan Hati dan Cinta Selepas Allah dan Rasul)
Panel 2 : Prof. Madya Mohamad Kamil Bin Abd Majid
(Pensyarah Universiti Malaya)
Mari datang ramai2...untuk maklumat lanjut berkenaan tajuk yang dibincangkan,
datang la beramai2 ke kuliah tersebut....
Read more...
Labels:
Iklan
Saturday, October 3, 2009
NiLAi SeBuAh TaNgiSaN 1..
Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih kekecewaan yang menghimpit perasaan dan kehidupan ini. Air mata seorang manusia hanyalah umpama air kotor di perlimpahan. Namun, setitis air mata kerana memohon diperkenankan doa jua takut pada sang Pencipta itu persis permata indahnya gemerlapan terpancar dari segala arah dan penjuru. Penghuni syurga ialah mereka yang banyak mencurahkan air mata.
Demi Allah dan Rasul-Nya bukan semata kerana harta dan kedudukan. Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang. Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang. Alangkah sempaitnya kuburku, keluh seorang batil. Alangkah sikitnya hartaku, kesal si hartawan (pemuja dunia).
Dari mata yang mengintai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus, mengalirlah air mata kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung hari akhirat yang dirasakan dekat, mengalir air mata insaf mengharap kemenangan serta rindu akan Rasul-Nya.
"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang" (al-Hasr: 20)
Sabda Rasulullah S.A.W : "Ada dua titisan yang Allah cintai, pertama ialah titisan darah para syuhada' dan titisan air mata yang jatuh kerana takutkan Allah."
Nabi Muhammad bersabda lagi : "Tangisan seorang pendosa lebih Allah cintai daripada tasbih para wali."
Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih baik daripada abid yang berangan-angan tentang Syurga kelak ia akan bertakhta.
Nabi bersabda: "Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih Allah sukai dari satu kebaikan yang menimbulkan rasa takbur."
Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulamak dunia hilang ilmunya dan hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya. Nabi Muhammad S.A.W bersabda: "Jika kamu tahu apa yang aku tahu, nescaya kamu banyak menangis dan sedikit ketawa."
Seorang hukamak pernah bersyair: "Aku hairan dan terperanjat melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan menyusahkan lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."
Nantikan sambungannya.........
Read more...
Labels:
muhasabah...
KiSaH KehiDuPaN & KeMaTiaN
Siri 1
Nampaknya kematian masih saja menghantui benakmu. Kamu membayangkan kematian ada dimana-mana, bersembunyi dibalik setiap yang ada. Bagimu, ia seolah-olah suatu kekuatan dahsyat yang mengancam kehidupan dan semua yang hidup. Sehingga jika dibandingkan kematian, kamu melihat kehidupan ini sebagai sesuatu yang kecil, namun menggelisahkan dan menakutkan.Secara pribadi, kulihat kematian bagai kekuatan kecil dan letih disisi kekuatan kehidupan yang meluap-luap, bergejolak, dan riuh gemuruh. Kematian nyaris tidak berdaya untuk berbuat sesuatu, kecuali mencomot sisa-sisa yang terjatuh di meja makan tipu daya untuk dimangsanya.
Jangkauan kehidupan yang melimpah itu, berpekik riuh dari setiap sudut disekelilingku. Semua nampak tumbuh, mekar dan berkembang. Ibu-ibu mengandung dan melahirkan, demikian juga hewan. Burung, ikan dan serangga melepaskan telurnya dan kemudian telur-telur itu mentas menjemput kehidupan dan makhluk hidup lainnya. Bumi merekah, mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, kemudian berkembang dan berbuah. Langit mencurahkan hujan, lautan menggulung-gulungkan gelombangnya. Semua yang ada di permukaan bumi tumbuh, dan berkembang biak.
Sesekali kematian menerkam dan merobek-robek mangsanya, lalu pergi. Atau adakalanya ia bersembunyi mengintai makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan untuk dimangsanya. Sementara kehidupan berjalan terus, penuh semangat menyalanyala, seolah-olah tidak melihat kematian itu.
Memang adakalanya kehidupan itu berteriak kesakitan, yaitu ketika kematian menerkam dan mengoyak tubuhnya. Akan tetapi, alangkah cepat sembuhnya luka-luka itu, dan alangkah cepatnya teriak kesakitan itu berubah menjadi teriak suka cita. Manusia, hewan, burung, ikan, ulat, serangga, rumput dan pepohonan, semuanya berdesakan memenuhi permukaan bumi ini dengan kehidupan dan makhluk hidup. Sedangkan kematian bersembunyi disudut sana, menerkam mangsanya dan berlalu… atau menantikan sisa makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan untuk dimangsanya.
Matahari terbit dan terbenam, bumi berputar-putar di porosnya, sementara kehidupan mereka disana-sini. Segala sesuatu berkembang, berkembang dalam ragam dan macamnya, berkembang dalam kualitas dan kuantitasnya. Kalau sekiranya kematian itu mampu melakukan sesuatu, pastilah kafilah kehidupan ini akan terhenti. Ternyata ia hanya suatu kekuatan kecil dan letih, disamping kekuatan kehidupan yang meluap-luap, bergejolak dan riuh gemuruh.
Bersumber dari kekuatan Allah yang Maha Hidup, kehidupan itu merekah dan menyebar…
Read more...
Labels:
Risalah ila Ukhti al-Muslimah
Friday, October 2, 2009
JaNgAnLaH ITU kiTa !!
Bukan lagi satu kejutan bagi kita jika ada dikalangan ahli gerakan atau yang mengaku suatu hari dulu dia adalah pejuang agama Allah lari hilang entah ke mana. Ia bukan lagi suatu perkara yang pelik, bahkan ia seolah-olah menjadi trend terkini.
Mungkin ia berlaku secara berperingkat, hebat dibangku sekolah, hilang di alam kampus. Hebat di kampus, tenggelam dan lemas di alam pekerjaan. Mungkin juga ada yang hebat sehingga alam pekerjaan tapi selepas berumah tangga…terkubur sampai tak tahu mana liang lahadnya. Inilah yang paling kita bimbangi.
Hebatnya seorang ahli gerakan itu dapat dilihat semasa program-program latihan @ tamrin dijalankan. Ada yang sampai sanggup tercedera, ada yang terpaksa atau rela mengorbankan segala-galanya dan ada juga yang semangat melaung-laungkan janji dan kata-kata jihad berulang kali. Namun itu semua ‘retorik’ di dalam tamrin.
Malangnya kita tak mahu sedari akan kepentingan dan manfaatnya di luar kelak. ‘retorik-retorik’ inilah sebenarnya HAKIKAT dan REALITI yang akan kita semua hadapi di luar. Tetapi kita tertipu dengan dunia yang tak pernah menghukum, kita terleka dengan ‘kasih sayang’ yang Allah berikan iaitu tanpa di uji dengan sesuatu yang susah sedikit pun.
Disebabkan itu, ramai yang hilang dan tenggelam seperti yang dikatakan tadi. Mereka merasakan tanggungjawab itu hanyalah di sekolah, di kampus…Tetapi apabila telah keluar dari “kota ilmu” ini maka hilanglah rasa tanggungjawab tersebut.
Sahabat, mentaliti inilah yang WAJIB kita buang. Seharusnya kelak, kita diberi rezeki ke alam pekerjaan, masa inilah yang patut kita manfaatkan untk kerja-kerja Islam dan melunaskan janji-janji kita semasa tamrin dulu.
Agaknya ada yang kurang bersetuju dengan penulis, tetapi jangan kita sempitkan ruang pemikiran kita. Membantu agama Allah ini bukan sahaja dengan jasad, tubuh badan dan fizikal kita, malah banyak lagi cara dan metod yang boleh kita gunakan dalam membantu usaha kita.
Katakan kerja kita dari pagi sampai ke petang, tak dapat bersama jemaah untuk membantu gerak kerja Islam, tapi tidak ada langsungkah masa cuti yang diberikan??
Mungkin juga masa cuti ada aktiviti dan program lain yang lebih ‘aula’ bagi kita, tapi tidak bolehkah kita hulurkan sedikit sahaja bantuan untuk gerak kerja dari segi kewangan.. mungkin! Bukankah kita sudah ada pendapatan??
Atau mungkin juga gaji kita pun cukup-cukup makan sahaja, baru mula nak bertapak..tapi tidak adakah sedikit pun pernyataan sokongan dan doa dari kita?? Bukan kerja untuk mengkritik sahaja..
Penulis sering teringat pesanan yang tak pernah lekang dari mulut seorang murabbi.
“time susah (di sekolah/di kampus) tak ada duit dan tak ada kenderaan, ke mana pun program yang di adakan, punyalah sanggup nak pergi walaupun jauh. Tapi bila dah ada duit, dah ada kenderaan sendiri nanti, program yang dekat pun payah nak nampak muka.”
Bimbangnya kalau-kalau kita tergolong dikalangan orang yang sebegitu.. Iman kita kadangakala di uji dengan sangat dasyat. Perasaan kita juga kadangkala diduga dengan dugaan yang kita tak terfikir akan terjadi pada diri kita. Oleh itu, dari sekarang doa sesama kita sangat diperlukan kerana itu sahajalah senjata yang kita ada untuk keteguhan dan ketetapan hati kita untuk sentiasa berada di dalam lorong ini.
‘Ala kulli hal, sama-samalah kita titipkan pesanan ini. Apatah lagi bagi tangan yang menaip ini...semoga Allah sentiasa mempermudahkan hamba-hambaNya..
Allahu a’lam..^_^
Read more...
Labels:
muhasabah...,
Peribadi,
SiswaSiswi
Putera-Puteri Harapan
Engkau bagaikan mutiara berharga
Dalam sepi kau penyeri
Dalam duka kau penawar
Akhirmu menyinari rumah tangga
Dalam sepi kau penyeri
Dalam duka kau penawar
Akhirmu menyinari rumah tangga
*Mengapa harus derita yang kau cari
Maruah kau pertaruhkan
Masa depan kau gadaikan
Mengalir air mata ayah bonda
Maruah kau pertaruhkan
Masa depan kau gadaikan
Mengalir air mata ayah bonda
Oh remaja harapan keluarga
Putera puteri negara
Pewaris nusa bangsa dan agama
Kembalikanlah nilai harga dirimu
Agar sempat kau tahu sejuk hati ibu yang
Melahirkan mendidikmu
Putera puteri negara
Pewaris nusa bangsa dan agama
Kembalikanlah nilai harga dirimu
Agar sempat kau tahu sejuk hati ibu yang
Melahirkan mendidikmu
Bangkitkan oh puteraku dari lena yang panjang
Berjuang bagai perwira yang berjasa
Bangunlah oh puteriku dari mimpi yang palsu
Pelihara maruah dan agamamu
Berjuang bagai perwira yang berjasa
Bangunlah oh puteriku dari mimpi yang palsu
Pelihara maruah dan agamamu
Ulang *
Pada Mu Tuhan doa kami panjatkan
Teguhkanlah keimanan
Tetapkanlah pendirian
Putera puteri harapan masa depan
Teguhkanlah keimanan
Tetapkanlah pendirian
Putera puteri harapan masa depan
~ In Team~
Read more...
Labels:
lirik pilihan
Subscribe to:
Comments (Atom)
Aku Wanita....

